Senin, 02 Januari 2012

Hayu urang di ajar Karawitan bagian ka 4 Oleh : Ujang Hendi

2        Pembagian Karawitan Menurut penyajiannya
Dilihat dari cara penyajiannya,karawitan sunda dapat dikelompokan menjadi tiga jenis,yaitu karawitan sekar,karawitan gending,dan karawitan campuran.
2.3  Karawitan Sekar
   Yang dimaksud karawitan sekar yaitu karawitan yang didominasi oleh unsur suara manusia atau disebut pula sekar.Dalam istilah musik disebut Vokal.Karawitan sekar ini dapat dibagi-bagi lagi menjadi beberapa macam,diantaranya :

a.      Pupuh
       Pupuh ialah sekar berirama bebas tapi dalam syair lagunya terikat oleh ketentuan yang sudah baku,meliputi guru lagu,guru wilangan.Yang dimaksud guru lagu ialah bunyi huruf vocal pada setiap ahir padalisan,yang meliputi bunyi : a,i,u,e,o.Sedangkan yang dimaksud guru wilangan ialah jumlah engang(suku kata) pada setiap padalisan(baris),dan jumlah padalisan pada setiap pada(bait).Untuk lebih jelasnya,lihatlah ketentuan yang terdapat pada puph maskumambang di bawah ini.

A – duh – I – bu – na – ha – te – ga – ngan – tun –    ab –  di           ( gr.lagu = i)
1      2       3     4      5        6     7     8        9         10     11      12         ( gr.wilangan)
Teu – a – can – de – wa – sa                                                              ( gr.lagu = a )
1        2      3      4      5      6                                                                 ( gr.wilangan = 6 )
Ab – di – sa – reng – a – di – a – di                                                    ( gr. Lagu = i )
1       2      3      4       5    6     7       8                                                   ( gr. Wilangan = 8 )
Ma – les – bu – di – ka – sa – li – ra                                                  ( gr.lagu = a )
1       2      3     4   5     6     7     8                                                         ( gr. Wilangan = 8 )

Di dalam karawitan sunda terdapat 17 pupuh yang dikelompokan menjadi dua,yaitu :
1.      Sekar ageung,terdiri atas asmarandana,dangdanggula,kinanti dan sinom.

2.      Sekar alit terdiridaribalakbak, lambang, magatru, maskumambang, mijil, pangkur, pucung, wirangrong, durma, gambuh, gurisa, juru demung, dan ladrang.

b.      Beluk
            Beluk adalah nyanyian byhun berirama bebas dibawakan dengan nada-nada tinggi. Seni beluk sudah termasuk langka,karena tidak semua orang mempunyai keahlian dalam membawakan nada-nada tinggi.Seni beluk di pentaskan di tengah rumah dengan pendengar/penonton terbatas,lazimnya dipentaskan dalam selamatan menjelang 40 hari setelah kelahiran bayi.Syair lagunya mengambil ceritera legenda atau kisah zaman dahulu.
c.       Tembang Wawacan
  Tembang wawacan hampir sama dengan beluk,baik pementasannya maupun tempat penyajiannya.Perbedaannya terletak pada lagu-lagu yang dibawakannya.    Dalam tembang wawacan ini lagu-lagunya dibawakan atau dinyanyikan dalam bentuk pupuh tidak dengan nada-nada tinggi
 Beberapa contoh tembang wawacan antara lain:      
Ø  Tembang wawacan Purnama Alam
Ø  Tembang wawacan Dipati Ukur
Ø  Tembang wawacan Mundinglaya
d.      Tembang Cianjuran
            Tembang Cianjuran ini termasuk dalam kelompok sekar,meskipun dalam penyajiannya dibantu dengan mempergunakan musik iringan kecapi dan suling.Gaya lagu didalam tembang Cianjuran ini terdapat empat jenis,yaitu jejemplangan,rarancangan,papantunan,Dan dedegungan.Beberapa lagu yang terdapat pada tembang Cianjuran ini di dalam sebagian syairnya terdapat lagu-lagu yang di ambil dari ketentuan-ketentuan yang berlaku didalam pupuh.Berikut ini adalah lagu-lagu yang biasa dibawakan dalam tembang Cianjuran :
Ø  Papatet
Ø  Kunosari
Ø  Sinom degung
Ø  Jemplang Bangkong
Ø  Jemplang Cidadap
Ø  Jemplang panganten
Ø  Pangapungan
Ø  Kapati-pati
Ø  Eros
            Adapun laras yang biasa dipergunakan didalam tembang Cianjuran ini adalah : laras pelog,laras sorog/madenda,laras salendro.Jenis karawitan sekar lainnya selain daripada tembang Cianjuran adalah : Ciawian,Cigawiran, Macapat.
Istilah sekar sering pula kita temui seperti pada beberapa pengertian berikut ini :
v  Anggana sekar,yaitu lagu yang dibawakan oleh seorang penembang.Didalam istilah musik kita kenal dengan nama solo.
v  Rampak sekar,yaitu lagu yang dibawakan oleh beberapa orang penembang.
v  Lurah sekar yaitu pimpinan pemain gamelan didalam suatu pertunjukan.
v  Sekar irama merdeka yaitu lagu yang biasanya tidak terpaku pada matra dan wiletan.Dalam karawitan sunda,jika kita melihat serta mendengarkan satu pertunjukan tembang cianjuran,ciawian, atau cigawiran,maka kita akan merasakan perbedaan antara lagu bebas irama dengan lagu berirama tetap.Lagu berirama teatap itu kita namakan dengan sekar irama tandak.
v  Sekar irama tandak,yaitu lagu yang bisa kita lihat dan kita rasakan dalam kenongan maupun goongnya.Contoh lagu-lagu yang termasuk jenis sekar irama tandak adalah sebagai berikut :
-          Lagu-lagu didalam kawih.
-          Lagu-lagu didalam panambih tembang cianjuran.
-          Lagu-lagu sekar tandak pada pupuh.
e.       Lagu kaulinan Barudak
            Lagu kaulinan barudak yaitu lagu yang dipergunakan untuk mengiringi permainan anak-anak dan biasanya dinyanyikan bersama-sama sambil berlangsungnya permainan tersebut.Beberapa lagu kaulinan barudak ini,
antara lain : Cingcangkeling,Ambil-ambilan,Perepet Jengkol,Sasalimpetan,Oray-orayan,Prang-pring.
2.4  Karawitan Gending
            Karawitan gending yaitu karawitan yang pada penyajiannya dititik beratkan pada penonjolan serta penggolongan unsur-unsur gending.Sedangkan lagu-lagu yang dimainkan pada karawitan gending di bentuk dari gabungan beberapa waditra dan bentuknya biasa kita sebut instrumentalia.
Yang termasuk karawitan gending antara lain :
a.      Lagu Degung Klasik
            Lagu degung klasik adalah lagu-lagu degung yang didalam penyajiannya mempunyai ciri-ciri khusus,antara lain :
Ø  Melodi lagu dibawakan dengan waditra bonang.
Ø  Lagunya berirama bebas,dalam arti tidak terikat oleh wiletan yang tetap.
Contoh lagu degung klasik,antara lain :Palwa,Ladrak,Palsiun,Lambang Parahyangan,Sang bango,Beber Layar,Sangkuratu,Karang Ulun,Lutung Bimgung dan Genye.Pada perkembangan berikutnya,sebagian lagu-lagu degung klasik tersebut dibuatkan lagu sekarannya yang dibawakan dalam bentuk rampak sekar.Lagu-lagu yang telah mengalami perubahan tersebut bentuknya pun berubah pula,yaitu menjadi karawitan sekar gending.
b.      Lagu Tataluan
            Lagu tataluan ialah lagu atau gending pada awal pementasan,sebelum pementasan pokok dimulai.Lagu-lagu ini biasanya bersifat gagah,serta tidak bertempo lambat.Biasanya pula lagu-lagu ini dibawakan oleh waditra-waditra gamelan, baik gamelan pelog, salendro,maupun degung.
Yang termasuk lagu tataluan antara lain :
Ø  Jiro
Ø  Gonjing
Ø  Celementre
Ø  Gudril
Ø  Kalkum
Ø  Jipang prawa
Ø  Jipang lontang
Ø  Gambir sawit

c.       Kacapi Suling
            Sesuai dengan namanya,penyajian karawitan gending ini dibawakan oleh waditra kacapi dan suling dalam bentuk instrumentalia.
d.      Gambangan
            Ialah penyajian karawitan gending yang menintik beratkan pada penonjolan permainan waditra gambang yang di bantu waditra ketuk dan goong.


e.       Tutunggulan
            Ialah karawitan yang menitik beratkan pada pengolahan ritmis yang dihasilkan dari pukulan lisung dan halu.Karawitan ritmis yang sejenis dengan tutunggulan lazim disebut dengan tatabeuhan.
2.5  Karawitan Sekar Gending
            Karawitan sekar gending ialah bentuk karawitan yang dihasilkan dari pengolahan gabungan antara sekar dang ending.Karawitan ini disebut pula dengan istilah kaeawitan campuran.Pada penyajiannya,kedudukan gending berfungsi sebagai pengiring sekar(nyanyian).
Yang termasuk karawitan sekar gending,antara lain :
a.      Kliningan,yaitu sajian sekar yang dibawakan oleh juru kawih dengan iringan gamelan pelog salendro.Untuk membedakan jenis-jenis lagunya,didalam kliningan di kenal dengan jenis rerenggongan,yang terdiri atas renggong alit dan renggong ageung.
Lagu-lagu renggong alit : angle,banjaran,barlen,bendrong,bendrong petit,bungur,catrik,cirebonan,karang nunggal, gendu,kulu-kulu,mitra,rancag,sinyur.
Lagu-lagu renggong ageung : banjar lumut,banjar mati,balaganjur, doblang,golewang,gunung sari,kastawa, karawitan,renggong bandung,renggong coyor,renggong bubaran,renggong geode,sungsang,udan mas.
b.      Kliningan Wanda Anyar,ialah penyajian kliningan yang membawakan lagu-lagu ciptaan baru,baik pada sekar maupun gendingnya.Bapak H.Koko Koswara(alm) adalah seorang pencipta lagu-lagu kliningan wanda anyar,lagu-lagu nya antara lain :
1.      Girimis
2.      Gupai Lembur
3.      Gupay Pileuleuyan
4.      Hujan Munggaran
5.      Sariak Layung
6.      Ngatrok
7.      Dasi Hideung
8.      Ka Abdi
9.      Pangantenan         
c.       Degung Kawih,ialah penyajian lagu-lagu yang mempergunakan gamelan degung sebagai pengiring sekar,baik dalam anggana sekar maupun rampak sekar.Disamping lagu degung kawih ciptaan baru,terdapat pula degung kawih yang di ambil dari lagu-lagu klasik.
Lagu degung kawih ciptaan baru,antara lain anjeun,angkrek bungur,bulan sapasi,cinta,dikantun tugas,kalangkang,satia,karembong kayas,gerentes, surat ondangan,wuyung gandrung dll.
Lagu degung kawih yang di ambil dari lagu klasik,antara lain : pajajaran,kadewan, palsiun,manintin,serang,ayun ambing dan beber layar.
d.      Celempungan,ialah sajian karawitan gending yang membawakan lagu-lagu kliningan dengan iringan waditra kacapi,rincik,kendang(pengganti celempung)rebab,dan goong.

e.       Kacapi Kawih
Sesuai dengan namanya,kacapi kawih ialah sajian kacapi sebagai pengiring lagu-lagu kawih.Dalam penyajiannya biasanya dilengkapi dengan waditra kendang,goong,rebab,atau biola.Ada beberapa sajian yang sering dikelompokkan sebagai sajian kacapi kawih,antara lain :kacapi jenakaan,kacapi Mang Kokoan,dan kacapi warung kopian.
f.        Gending Karesmen
Gending karesmen ialah penyajian lagu-lagu dang ending yang dipentaskan dalam bentuk drama serta membawakan suatu cerita yang para pemainnya dituntut untuk bisa bernyanyi dan berperan sebagai tokoh dalam cerita.Lagu maupun geunding yang disajikannya diambil dari lagu-lagu yang telah ada maupun ciptaan baru.
            Beberapa contoh geunding karesmen/drama suara,antara lain :
v  Si Kabayan
v  Sarkam Sarkim
v  Lutung Kasarung
v  Berekat Katith Mahal
v  Pahlawan Samudra
v  Perang
v  Kareta Api
v  Arisan
v  Nyi Arum Tresnamalati

MAPAY LARATAN




                                       
Ujang Hendi
dilahirkeun di sukabumi,tepatna di kampung Cijangkar wetan Rt 01 / 06 Desa Cisarua Kec. Cikole Kota Sukabumi,kaping 23 Oktober 1973.
Ujang Hendi di lahirkeun ti keluarga seniman,yuswa 10 tahun tos ngawitan  aktif dina widang seni terutami dina widang karawitan.Malihanmah tos sering ngiring pentas,ti panggung ka panggung.

Sepuh Ujang Hendi ,wasta Ibu Adah Jubaedah (alm) sareng bapa Handi (alm) parantos maparin elmu dina widang seni.Mantena parantos ngadidik tikawit Ajen seni, nabuh gamelan dugi ka cara ngadamel gamelan.Nu Alham dulillah dugi kadanget ayeuna ata elmu kalintang mamfa’at na khususna kanggo pribadi abdi sareng keluarga.

Ujang Hendi ngagaduhan niat hoyong ngamumule seni budaya sunda, anu kiwari ampir laas ku paneka zaman.Salaku urang sunda sim kuring ngaraos bangga janten urang sunda anu beunghar tina budayana.
Pikeun ngaronjatkeun seni sunda,simkuring nyobian ngabentuk ” Sanggar Panineungan” anu dilebetna ngabina seni karawitan sareng seni tari.Alham dulillah seueuer pisan anu minat lebet ka Sanggar Panineungan.

Taun 2005 alham dulillah simkuring kapercanten janten juara ka 1 penata musik sa Jawa Barat dina raraga lomba karya cipta tari kreasi Jawa Barat di TMII. Judul garapan Tari Dog – dog lojor.
Taun 2006 sim kuring ngawakilan Pripinsi Jawa barat ngiring lomba karya cipta musik daerah tingkat Nasional dina raraga Parade Tari Nusantara,Alham dulillah ka percanten janten Penata Musik Unggulan Tingkat Nasional.

Pangajak ti simkuring khususna ka urang sunda “Hayu urang sami – sami mumule budaya sunda”. Aya pari paos “ Urang sunda bakal Ilang dangiangna,lamun ilang budayana.
Hapunten anu kasuhun bilih seratan ieu kirang mernah dina bahasa sareng sastrana eta kalebet tina kabodoan simkuring,
Eh….. hilap padumukan simkuring ayeuna di Kampung Nagrak lebak Rt 01 / 02 Desa Bale Kambang Kec. Nagrak Kab. Sukabumi. Hatur nuhun……..

Sunda Nu Urang ( Oleh : Ujang Hendi )



Sunda endah sunda urang
Kadeudeuh kareueus urang
deukeutan tong di jauhan
Yu pupusti babarengan


Nya dimana urang aya
Didinya sunda diraksa
Mangkade ka luli - luli
Jati kasilih ku junti

Hayu urang di ajar Karawitan bagian ka 3 Oleh : Ujang Hendi

2        Sejarah Karawitan
            Karya yang berusia tua yang merupakan peninggalan di masa lalu dapat dijadikan sebagai salah satu sumber sejarah.Para ahli sejarah mengelompokkan menjadi dua,yaitu seni dinamis dan seni statis.
Yang dimaksud seni dinamis yaitu seni yang bergerak,seperti tarian,nyanyian,upacara-upacara persembahan,dan beberapa seni pertunjukan lainnya.Sesuai dengan sebutannya,seni dinamis lebih banyak mendapat kesempatan untuk merubah.Adapun seni statis merupakan kebalikan dari seni dinamis,yaitu karya seni berupa benda-benda tidak bergerak,seperti relief-relief pada candi.
            Dari pengelompokan tersebut dapat kita ketahui,karawitan termasuk kedalam kelompok seni dinamis.Untuk mengetahui nyanyian atau suara waditra pada hari kemarin,kita tentu akan menemui kesulitan tanpa adanya alat pembantu seperti contohnya alat perekam.Padahal kitapun tahu,alat perekam suara baru ditemukan pada abad sekarang.Kita bisa membayangkan,betapa sulitnya mengetahui sejarah dan perkembangan karawitan dimasa lampau.Dengan demikian,kalau kita akan mempelajari sejarah karawitan,paling-paling hanya dapat meneliti benda-bendanya saja,atau mengadakan rekontruksi(peragaan ulang)pada beberapa jenis karawitan yang sekarang masih ada dan di anggap masih asli atau mendekati keasliannya.
            Selain itu,untuk mempelajari sejarah karawitan dimasa lalu,kita tidak bisa terlepas dari mempelajari manusia dan budayanya,baik berupa benda bersejarah seperti relif-relief pada candi dan prasasti,maupun beberapa peninggalan berupa keterangan-keterangan yang dapat memberikan gambaran tentang karawitan pada masa itu.Sayang sekali,sumber-sumber keterangan untuk karawitan sunda dimasa lampau sangatlah minim.Satu-satunya sumber tertua yang kita dapati ialah naskah Sanghyang Siksakandang Karesian diperkirakan ditulis pada tahun 1518 Masehi,yaitu pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja penguasa Pakuan Pajajaran.



2.3  Zaman Prasejarah

            Zaman prasejarah,sebagaimana dikelompokkan oleh para ahli sejarah,dikenal dengan sebutan zaman Palaeolithicum,Mesolithicum sampai dengan zaman perunggu.Pada permulaan masa prasejarah,kebudayaan manusia baru berkisar pada pembuatan alat-alat berburu yang terbuat dari batu dan tulang-tulang binatang.Petunjuk mengenai adanya karawitan(seni suara) pada zaman itu belum ditemukan.
            Pada masa akhir dari zaman itu atau yang dikenal masa Neolithicum,Megalithikum,dan
 Perunggu,manusiannya telah mengenal sistimkepercayaan yang disebut Deuisme,
Animisme,dan kepercayaan adanya roh-roh halus atau yang di sebut Dinamisme.Sisa-sisa peninggalan kepercayaan pada masa itu,seperti mempercayai adanya roh-roh para leluhur yang senan tiasa memberikan perlindungan kepada yang masih hidup,atau adanya kepercayaan bahwa roh-roh para leluhur itu dapat hadir kembali dengan jalan memasuki roh yang masih hidup,pada beberapa jenis pertunjukan seni karawitan sekarang masih dapat ditemukan.
            Karena seni karawitan yang dilihat dari fungsinya maupun bentuknya masih memiliki ciri-ciri berikut ini,dapat dianggap sebagai peninggalan karawitan pada masa itu,seperti:
a.       Karawitan yang berfungsi sebagai pengiring suatu upacara persembahan atau upacara mencari perlindungan pada roh-roh para leluhur,seperti:ruwatan,upacara seren taun,dan upacara-upacara persembahan sejenisnya.
b.      Lagu-lagu yang diperuntukan bagi para leluhur agar senan tiasa memberikan perlindungan,seperti kidung,kembang gadung,dan sejenisnya.Sampai sekarang dibeberapa tempat lagu tersebut masih dianggap keramat dan tidak boleh dimainkan sembarang.
c.       Karawitan yang berusaha mendatangkan roh-roh gaib dan kekuatan gaib lainnya agar bersatu dengan yang masih ada,sehingga orang memintanya mempunyai kesaktian luar biasa dalam keadaan tidak sadar,seperti:kuda lumping,sintren,laes dan sejenisnya.Waditra karawitan yang suaranya menirukan bunyi-bunyi alam atau menirukan suara binatang,seperti karinding,toleot,hatong,celempung dan waditra yang terbuat dari kulit kerang adalah merupakan karawitan sisa peninggalan masa ini.

2.4     Zaman Hindu Budha

       Zaman ini ditandai dengan masuknya pengaruh Hindu dan Budha ketanah air kita.Pada   masa itu manusia telah mengenal tulisan,diketahui dengan didapatkannya lukisan-lukisan berupa relief-relief pada candid an prasasti pada batu-batu bertulis.Pada relief-relief candi di Jawa Tengah dan Jawa Tmur,banyak terdapat lukisan-lukisan instrument karawitan,seperti waditra menyerupai kendang,waditra berwilah menyerupai saron dan gambang,waditra berpenclon menyerupai bonang dan waditra menyerupai suling.
       Hal ini menunjukan bahwa masa itu masyarakat di Indonesia telah mengenal seni gamelan walaupun dalam bentuk jumlah yang sederhana.Pada masa itupun telah dikenal karawitan bernada.Berdasarkan gambar (relief) pada candi di Jawa Tengah yang melukiskan waditra semacam gambang berjumlah 10 nada,dan pada relief candi Jawa Timur yang menggambarkan waditra dengan nadanya berjumlah 14.Hal ini telah membuat kesimpulan beberapa ahli sejarah yang mengadakan penelitian terhadap seni karawitanmasa lalu,yaitu bahwa pada masa itu telah dikenal adanya laras salendro dan pelog.
       Sisa  peninggalan zaman Hindu Budha sampai sekarang masih banyak terdapat pada beberapa pertunjukan karawitan,yaitu seni karawitan pengiring upacara-upacara pemujaan, seperti :
a.       Kesenian jentireng dari daerah Rancakalong Sumedang.Kesenian ini sebagai pengiring upacara panen padi sebagai penghormatan terhadap Dwi Sri(dewi kesuburan).
b.      Kesenian angklung sebagai pengiring upacara menanam padi pada masyarakat Baduy.
c.       Rajah  pada seni pantun masih sering terdengar perkataan seperti”hung…ahung” yang berarti sebutan untuk Dewa Brahma dan Wisnu.
d.      Beberapa sajian seni karawitan yang disertai dengan pemberian sesaji pada awal pertunjukannya.
       Pada bagian ke 3 disebut-sebut naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang menjadi sumber informasi  penting untuk mengetahui keadaan kehidupan dan kebudayaan sunda sebelum masuknya pengaruh Islam.Khususnya tentang karawitan sunda,pada naskah tersebut ditulis yang bunyi terjemahannya sebagai berikut :
“ Bila ingin tahu segala macam lagu,seperti kawih bwatuha,kawih panjang,kawih panyaraman,kawih sisindiran,kawih pengpeledan,bongbongkaso, ,kawih tangtung, kawih sasambatan,kawih igel-igelan,segala macam lagu,tanyalah paraguna(ahli karawitan) “
2.5  Zaman Islam
       Masuknya agama Islam ke Indonesia membawa perubahan besar terhadap perkembangan seni karawitan baik dalam hal jenisnya,maupun isinya.Seni karawitan yang sudah ada sebelumnya,yang sebagian besar telah dipengaruhi kebudayaan Hindu dan Budha,lama-kelamaan berbaur dengan pengaruh Islam.
       Seni wayang yang sebelumnya bernafaskan Hindu,oleh para wali diubah dan disesuaikan dengan ajaran agama Islam.Seni wayang inilah yang kemudian oleh para wali dipergunakan untuk menyebarkan agama Islam di Jawa Barat.Disamping terjadi pembauran dan perubahan fungsi,muncul pula karya-karya seni karawitan yang bernafaskan Islam,seperti :
a.      Sekaten didaerah Cirebon dan Kuningan.
b.      Rudat dan solawatan,yaitu sejenis seni suara dengan diiringi terbang dan genjring.Syair lagunya berisikan ajaran-ajaran Islam serta solawat nabi Muhammad SAW.
c.      Muyen dari daerah ciamis,yang unsur karawitan nya hamper sama dengan terbang.Terdapat pula kesenian Janeng dari daerah perbatasan Ciamis dengan Jawa Tengah.Unsur karawitannya sama dengan Muyen,kecuali bahasanya menggunakan bahasa Jawa.
       Seni karawitan lainnya yang sejenis dengan terbang sangat banyak ditemui,bahkan hamper disetiap daerah Jawa Barat,seperti mawalan,mubadah,marhabaan,samrah,dsb.Pada zaman itu,dsamping mulculnya karawitan bernafaskan Islam,seni gamelan yang telah ada sebelumnya pun mengalami penyempurnaan dan penambahan instrument.Gamelan mulai dipergunakan sebagai pengiring wayang golek yang masuk ke Jawa Barat pada tahun 1244 Masehi.Seni gamelan semakin dikenal dan penyebarannya semakin luas.Pada tahun 1445 Masehi,dibuatlah gamelan Kyai Lasem(kepunyaan keluarga alm.Bapak RTA Sunarya).Pada masa pemerintahan Bupati R.Adipati Aria Panji Jaya Nagara (Ciamis),pada tahun 1635 Masehi,dibuatlah Cara Balen.
2.6  Pengaruh Seni Barat
       Zaman ini ditandai dengan masuknya pengaruh seni barat(asing) pada karawitan sunda,yaitu semasa penjajahan bangsa-bangsa asing di Indonesia sampai masa revolusi kemerdekaan (tahun 1600 M-1945 m).Kebudayaan  mereka telah banyak mempengaruhi karawitan sunda dan pemikiran serta wawasan para senimannya.Dalam hal keilmuan,pengaruh seni barat terhadap seni karawitan sangat besar mamfaatnya,seperti dibuatnya teori-teori karawitan,bertambahnya wawasan para seniman sunda,lahirnya cara dan sistim penulisan karya karawitan,sistim notasi,dsb.
Pengaruh seni barat pada karawitan sunda lebih luasnya,antara lain :
a.      Berkembangnya jenis karawitan pertunjukan yang bersifat apresiatif,seperti lahirnya karawitan gending karesemen sebagai pengaruh dari seni opera dari barat.
b.      Pembauran instrument musik pada seni karawitan,seperti terdapatnya instrument gitar pada kesenian tarling,saxsopone pada kesenian tanjidor,dan penambahan-penambahan instrument lain(misalnya bangsing dan biola).
c.      Lahirnya teori karawitan,antara lain mulai dikenalnya sistim penulisan dalam bentuk notasi,seperti :
1)      Notasi (titi laras) Rante pada tahun 1880 M.
2)      Titilaras Anda pada tahun 1890M.
3)      Titlaras Kapatihan 1910M.
4)      Titilaras Da-Mi-Na-TI-La- tahun 1924M.
5)      Titlaras Ancak pada tahun 1925M.
2.7  Zaman Moder’n
            Kurun waktu zama moder’n adalah mulai tahun 1945 sampai sekarang.Pada saat itulah kita merdeka,terbebas dari penjajahan bangsa asing yang telah sekian lama mendiami Negara kita.
            Zaman moder’n ditandai dengan pesatnya pembangunan di segala bidang,terutama pada sektor industri,teknologi,informasi,dan komunikasi.Masuknya pengaruh kesenian asing pada seni karawitan,baik yang bersifat positif maupun bersifat negative,semakin banyak.Situasi ini,ditinjau dari beberapa segi,seperti munculnya seniman-seniman karawitan kreatif dengan karya-karya barunya,semakin digemarinya karya-karya karawitan pada kalangan remaja,semakin luasnya ruang lingkup pementasan karawitan sunda adalah sesuatu hal yang sangat menggembirakan.Namun disisi lain,kemajuan zaman seperti sekarang ini,menambah kekhawatiran kita akan punahnya beberapa seni karawitan tradisional,yang tidak dapat beradaptasi dengan kemajuan zaman.Dengan demikian,untuk mengetahui perkembangan karawitan pada masa moder’n ini,kita tinjau dari hal-hal yang bersifat positif dan negatif.
a.      Bersifat positif
Ø  Munculnya lagu-lagu baru(wanda anyar) baik pada sekar maupun gending.
Ø  Lahirnya seniman-seniman berpendidikan formal.
Ø  Semakin luasnya ruang lingkup karawitan sunda,tidak hanya di daerah sunda sendiri melainkan telah dikenal di daerah-daerah lain bahkan diluar negeri.
Ø  Penyebaran lagu-lagu sunda melalui media elektronik,media masa,dan semakin meningkatkan apresiasi dan penghargaan masyarakat terhadap budayanya sendiri.
Ø  Kemajuan dibidang teknologi sangat menunjang terhadap perkembangan seni karawitan,seperti dalam hal pembuatan alat-alat karawitan,sarana pementasan,penelitian dan pendokumentasian karya-karya karawitan.
Ø  Munculnya organisasi-organisasi seni karawitan,seperti grup kesenian,lingkung seni,sanggar seni,dan sebagainya.
Ø  Semakin banyaknya kegiatan-kegiatan karawitan di luar pementasan,seperti : pasang giri,pecan karawitan,sarasehan karawitan .
b.      Bersifat Negatif
Ø  Bergesernya pola kehidupan masyarakat dari agraris ke industry,mengakibatkan punahnya beberapa jenis karawitan,terutama karawitan yang erat hubungannya dengan kehidupan masyarakat petani,seperti : seni rengkong,calung rantay,tutunggulan dsb.
Ø  Derasnya arus informasi dari berbagai sumber yang banyak memperkelalkan budaya dan kesenian asing.Banyak budaya dari luar ditiru oleh masyarakat kita,padahal belum tentu sesuai dengan kepribadian bangsa kita.Akibatnya,banyak didapatkan karya seni karawitan yang dicampurbaurkan dengan beberapa unsur dari kesenian luar tanpa melalui penyaringan terlebih dahulu.
Ø  Beralih fungsinya sebagian seni karawitan pada fungsi komersil,banyak mendorong lahirnya karya-karya karawitan dan seniman karawitan yang terlalu berorientasi pada hal yang sifatnya asal jadi uang,sehingga tidak sedikit seniman karawitan yang melahirkan karya-karya berselera rendah,bahkan tidak mencerminkan kepribadian karawitan sunda.